Inikah Rudal Bawah Laut Iran Berhulu Ledak 200 Kg yang Bikin Musuh Was-Was Ketakutan?

Inikah Rudal Bawah Laut Iran Berhulu Ledak 200 Kg yang Bikin Musuh Was-Was Ketakutan?

IRAN, Businesseconomicshub.com – Peringatan keras dikeluarkan oleh Komandan Angkatan Laut IRGC Shahram Irani pada Kamis (30/4/2026) yang menyebut bahwa Iran segera meluncurkan sebuah ‘senjata baru’ terhadap musuh. Peringatan itu seiiring dengan proses negosiasi antara Teheran dan Washington yang sepertinya akan menemui jalan buntu lantaran Presiden AS Donald Trump menolak tuntutan Iran agar membuka blokade maritim ditukar dengan pembukaan Selat Hormuz.

“(Senjata) itu ada dekat di sebelah mereka (juga). Saya harap mereka tidak mengalami serangan jantung,” kata Irani dikutip India Today.

Senjata rahasia yang dimaksud Iran diduga adalah sebuah senjata bawah air. Senjata yang menurut IRGC ditakuti oleh musuh-musuh Iran itu bernama Hoot, yang mampu melaju dengan kecepatan seperti peluru di air dan bisa membelah kapal perang atau kapal selam musuh.

Ahli pertahanan Sandeep Unnithan kepada India Today mengatakan bahwa peringatan dari Irani mengarah pada petunjuk senjata rahasia itu adalah sebuah torpedo roket Hoot yang pertama kali diuji coba oleh Iran pada 2006. Menurut Unnithan, Hoot meluncur sangat cepat sehingga sistem pertahanan musuh hampir mustahil punya waktu untuk bereaksi.

Dalam bahasa Persia, Hoot berarti Paus. Iran mengeklaim Hoot sebagai salah satu senjata bawah air tercepat di dunia. Faktanya, Iran adalah negara kedua setelah Rusia, yang memiliki sebuah senjata torpedo canggih seperti Hoot. Hoot versi Rusia disebut VA-111 Shkval, diperkenalkan pada kurun waktu 1990-an.

Bagaimana super torpedo berbeda dengan senjata bawah laut lainnya? Torpedo konvensional yang biasanya adalah rudal berpandu bawah air memiliki kecematan antara 60 hingga 100 kilometer (km) per jam. Sementara, Iran mengeklaim, kecepatan Hoot bisa mencapai lebih dari 360 km per jam saat meluncur di bawah laut.

Jika klaim Iran memang benar adanya, itu adalah sebuah terobosan besar sebagaimana daya hambat air lebih besar daripada udara. Senjata yang dilepaskan di bawah air kehilangan momentum akibat air yang 1.000 kali lebih padat daripada udara.

Pada 1970-an, ilmuwan Rusia mengembangkan sebuah motor roket berbahan bakar padat untuk sebuah torpedo. Lajunya memicu gelembung-gelembung gas di sekitar torpedo bertujuan mengurangi daya hambat air dan mampu membuat torpedo melaju dalam kecepatan tinggi.

Sederhanya, alih-alih mengiris air seperti senjata biasa, sebuah torpedo mengeluarkan gelembung gas di sekitarnya, yang pada dasarnya mengubah lautan menjadi sebuah lintasan berkecepatan tinggi. Adapun, yang membedakan Hoot dengan torpedo lain adalah kemampuannnya untuk membawa sebuah hulu ledak hingga 200 kilogram.

Namun kecepatan tinggi torpedo super seperti Hoot harus dibayar mahal dengan jarak tempuhnya akibat sangat cepatnya menghabiskan bahan bakar. Jika torpedo konvensional biasanya memiliki jarak tempuh hingga 30 km, Hoot hanya bisa mengincar target dalam jarak 15 km.

Penasihat militer senior pemimpin tertinggi Iran mengatakan pada Kamis (30/4/2026) bahwa Teheran dapat memilih konfrontasi jika blokade maritim AS terus berlanjut. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah pada Kamis dini hari, Mohsen Rezaei menyebut Iran memiliki berbagai cara untuk menembus blokade tersebut, dan menegaskan upaya penerapan blokade itu tidak akan berhasil.

Ia menambahkan, jika blokade berlanjut, Iran mungkin akan menggunakan konfrontasi untuk mematahkannya. Rezaei juga menguraikan kemungkinan skenario jika terjadi perang lain, menurutnya akan berfokus pada wilayah pesisir selatan, meluas hingga ke arah Isfahan, serta mencakup beberapa aktivitas di wilayah barat negara itu.

Ia memperingatkan konflik semacam itu dapat mencakup pengeboman dan pembunuhan di Teheran.

AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dibalas Teheran dengan serangan ke Israel dan negara-negara lain di kawasan yang menampung aset AS. Serangan udara AS-Israel menewaskan lebih dari 3.300 orang sebelum Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April yang dimediasi oleh Pakistan.

Meski awalnya dijadwalkan berakhir pada 22 April, Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas pada 21 April atas permintaan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Asim Munir.

Pada Kamis, Presiden AS Donald Trump dikabarkan akan menerima penjelasan tentang rencana baru terkait kemungkinan aksi militer terhadap Iran. Mengutip sejumlah sumber, Axios melaporkan bahwa paparan dari Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper itu menunjukkan Trump tengah mempertimbangkan secara serius untuk kembali melancarkan operasi tempur besar-besaran.

Langkah itu disebut sebagai upaya memecah kebuntuan negosiasi atau memberikan tekanan terakhir kepada Iran sebelum mengakhiri konflik.

Menurut laporan tersebut, CENTCOM telah menyusun rencana serangan “singkat tetapi intens” dengan kemungkinan menargetkan infrastruktur Iran guna mendorong negara itu kembali ke meja perundingan dengan sikap lebih fleksibel, khususnya terkait isu nuklir.

Opsi lain yang akan dipresentasikan mencakup kemungkinan menguasai sebagian wilayah Selat Hormuz guna membuka kembali jalur pelayaran komersial, meski langkah tersebut berpotensi melibatkan pasukan darat. Selain itu, rencana lain yang sebelumnya pernah dibahas adalah operasi pasukan khusus untuk mengamankan cadangan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran.

Dalam wawancara dengan Axios pada Rabu, Trump menyatakan bahwa blokade laut terhadap Iran “sedikit lebih efektif dibandingkan pengeboman” dan dianggap sebagai alat penekan yang utama. Namun, laporan itu menyebutkan Trump tetap membuka kemungkinan aksi militer jika Iran tidak menunjukkan sikap kompromi.

Para perencana militer AS juga mengantisipasi kemungkinan aksi balasan dari Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah sebagai respons atas blokade tersebut. Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine dilaporkan akan ikut menghadiri paparan tersebut. (*)