Businesseconomicshub.com – Kasim telah dikenal sejak era kerajaan di Tiongkok sebelum masa kekaisaran. Di lingkungan istana, mereka bekerja sebagai pelayan di area dalam istana.
Mayoritas kasim berasal dari keluarga kurang mampu. Sebagian besar harus dikebiri sebagai syarat untuk bertugas, sementara lainnya mengalami pengebirian sebagai bentuk hukuman atau karena dijual oleh orang tua mereka yang hidup dalam kemiskinan.
Untuk menjadi kasim, seorang anak laki-laki biasanya menjalani proses pengebirian sebelum mencapai masa pubertas. Tindakan ini umumnya dilakukan oleh seorang ahli yang berpengalaman, dan ia akan diberikan ramuan serta obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit.
Bagian genitalnya diangkat menggunakan pisau tajam, kemudian lukanya dibalut dengan campuran herbal agar proses pemulihan berlangsung lebih cepat. Anak tersebut harus beristirahat selama beberapa minggu hingga pulih sepenuhnya, sebelum akhirnya mulai bekerja di lingkungan istana.
Kasim dinilai sebagai pelayan yang paling bisa diandalkan karena mereka tidak dapat merayu perempuan di rumah tangga atau memiliki anak yang dapat membentuk dinasti yang menyaingi dinasti kaisar yang sedang berkuasa.
Maka dari itu, kasim hanya bertugas melayani para wanita di istana kerajaan. Kasim bertindak sebagai pengantar dan pengangkut, pengawal, perawat, dan pada dasarnya menjalankan peran sebagai pelayan, kepala pelayan, dayang, dan juru masak.
Meskipun memiliki posisi istimewa, pandangan masyarakat umum terhadap kasim sangat negatif karena mereka dianggap sebagai kelas terendah dari semua pelayan.
Mengapa orang-orang di Kekaisaran Tiongkok masih ingin menjadi kasim, meskipun mereka akan dikebiri dan menghadapi pandangan negatif masyarakat?
Kekayaan Kasim di Kekaisaran Tiongkok
Menurut Profesor Henry Tsai, kasim di Kekaisaran Tiongkok memiliki pengaruh dan kekayaan besar karena mereka melayani kaisar secara langsung.
Mereka dibawa ke istana sejak kecil, diberi kehidupan mewah, dan diajarkan adat istiadat istana, sehingga mereka sangat dekat dengan keluarga kekaisaran.
“Katakanlah kau masih remaja ketika mulai bekerja untuk pelindungmu, mungkin putra dari salah satu istri kaisar. Kau berusia 13 atau 14 tahun, dan pangeran ini berusia lima atau enam tahun. Kau mengawasinya. Kau bermain dengannya. Kalian tumbuh bersama. Lalu, berkat keberuntungan, anak yang kamu awasi ini menjadi kaisar. Tiba-tiba, kau menjadi salah satu orang yang paling dipercaya kaisar, dan itu memberimu akses besar ke kekuasaan,” jelas Tsai dikutip laman News Wise.
Keintiman dan kesetiaan kasim-kasim ini membuat para kaisar sangat mempercayai mereka, bahkan beberapa kaisar membiarkan mereka memegang kekuasaan.
Kaisar Dinasti Tang memberi gelar bangsawan kepada kasim, dan di masa lain, kasim diizinkan memiliki tanah, mengadopsi anak, memimpin pasukan, dan menduduki jabatan penting. (*)












